Apakah Bitcoin Kripto Investasi Bodong ? Ya dan Tidak !

Hancurnya harga Bitcoin dan Kripto di 2022, serta runtuhnya salah satu exchange kripto terbesar di dunia, FTX, membuat banyak orang skeptis dan bertanya apakah Bitcoin investasi bodong atau bukan.

Pertanyaan yang wajar.

Harga Bitcoin turun dari all-time-high di $65K ke $16K dalam waktu kurang dari 1 tahun. Koin kripto lain banyak yang turun 90% dari puncak harga.

Tidak ada aset keuangan lain yang harganya turun sedalam ini, kecuali investasi bodong.

Tapi, apakah segitunya Bitcoin dan kripto sehingga layak disebut investasi bodong.

Untuk membahas hal ini dengan kepala dingin, mari kita kupas satu persatu masalahnya dan kemudian menyimpulkan apakah Bitcoin dan kripto adalah investasi yang legit atau bukan.

Apa itu Bitcoin dan Kripto

Bitcoin dan Kripto adalah mata uang yang disimpan dan digunakan dalam sistem blockchain. Mulai dibangun sejak tahun 2008 untuk Bitcoin dan sekarang telah berkembang ribuan koin kripto.

Di Indonesia, kepastian hukum soal jual beli aset kripto adalah berdasarkan peraturan Menteri Perdagangan dan Bappebti. Regulasi cryptocurrency di Indonesia berada di bawah pengawasan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI).

Sesuai dengan peraturan Bappebti dibawah ini, jual beli Bitcoin dan mata uang digital lainnya legal di Indonesia. Orang boleh melakukan jual beli melalui pedagang aset kripto.

  1. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 99 Tahun 2018 tentang Kebijakan Umum Penyelenggaraan Perdagangan Berjangka Aset Kripto dan
  2. Peraturan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Nomor 5 Tahun 2019 tentang Ketentuan Teknis Penyelenggaraan Pasar Fisik Aset Kripto (Crypto Asset) di Bursa Berjangka. Aturan ini ditandatangani pada 8 Februari 2019.

Bitcoin dan aset kripto lainnya juga diawasi secara ketat oleh Bank Indonesia dan OJK, yang melarang Bitcoin dan mata uang digital lainnya sebagai bentuk pembayaran karena bukan berasal dari industri keuangan.

Manfaat Bitcoin

Sejumlah manfaat dari Bitcoin, yaitu:

1. Jumlah Terbatas 21 Juta

Bitcoin memiliki jumlah yang terbatas, yaitu hanya 21 juta Bitcoin.

Jadi, secara programming di Blockchain sudah di kunci bahwa jumlah Bitcoin 21 juta.

Dengan jumlah yang terbatas, nilai Bitcoin cenderung meningkat. Sifatnya deflationary.

2. Desentralisasi

Bitcoin bersifat desentralisasi, yaitu tidak ada satu pihak yang mengontrol Bitcoin. Bitcoin dicatat secara desentralisasi peer to peer di semua komputer yang bergabung dalam jaringan Blockchain.

Kalau ingin mengirimkan Bitcoin maka tidak perlu bank atau pihak sentral karena prosesnya berlangsung secara peer to peer, alias langsung antara pengirim dan penerima.

Proses pencatatan transaksi, yang selama ini dilakukan oleh bank, digantikan anggota komunitas Bitcoin. Tidak dibutuhkan pihak sentral, seperti bank, dalam Bitcoin.

3. Kirim Uang Sangat Cepat ke Seluruh Dunia

Karena bersifat terdesentralisasi, proses pengiriman Bitcoin menjadi sangat cepat dan sangat murah ke seluruh dunia.

Kirim Bitcoin persis seperti kita mengirimkan email. Prosesnya semurah dan secepat itu.

4. Mudah Disimpan

Sebagai aset digital, Bitcoin mudah disimpan. Mudah pula dikirim.

Tidak butuh tempat yang luas untuk menyimpan Bitcoin dalam jumlah besar. Disimpan dalam USB sudah cukup.

5. Trend Kenaikkan Harga

Dalam 10 tahun sejak kemunculannya, harga Bitcoin telah terbang melesat sangat tinggi. Meskipun beberapa kali terjadi crash di market kripto, tetapi harga Bitcoin selalu mencetak harga all-time high baru.

6. Aman

Meskipun disimpan secara terdesentralisasi di komunitas, Bitcoin sangat aman dalam blockchain karena adanya teknologi kriptografi.

Untuk bisa meng hacked Bitcoin, hacker harus bisa mengakses dan mengubah seluruh data yang ada di block yang terdapat dalam komunitas. Ini hal yang mustahil.

Sampai hari ini, Bitcoin tidak pernah di hack oleh hacker.

7. Privasi Sangat Terlindungi

Meskipun jaringannya open source dan terdesentralisasi, namun privasi pemilik Bitcoin sangat terlindungi.

Berbeda dengan penempatan uang di bank yang perlu KYC lengkap, pemilik Bitcoin tidak bisa diketahui karena tidak membutuhkan KYC untuk membelinya.

8. Divisibility

Divisibility adalah kemampuan dipecah menjadi jumlah kecil:

Andainya punya 1 batangan emas, lalu ingin membeli barang seharga 0,5 batang emas, mustahil, karena sangatlah sulit untuk membagi emas itu menjadi potongan kecil untuk melakukan transaksi.

Namun, jika memiliki 1 BTC, kita dapat mengirim/mentransaksikan jumlah sekecil 0,00000001 BTC. Jadi, kita bisa bertransaksi dengan angka yang se-akurat anda inginkan (seperti 0.4981537 BTC).

Tantangan Bitcoin

Meskipun menawarkan banyak kelebihan, Bitcoin punya sejumlah masalah, yaitu:

1. Kemampuan Memproses Transaksi Rendah. Tidak Bisa sebagai Alat Tukar

Salah satu tantangan di Bitcoin adalah kecepatan dalam memproses transaksi yang masih terbatas.

Transaction per second di Bitcoin hanya 6 per detik, sementara Visa bisa transaksi ribuan kali per detik.

Akibatnya, Bitcoin saat ini memiliki use case yang masih sangat terbatas.

Bahkan, beberapa negara sudah dengan tegas melarang Bitcoin sebagai alat tukar.

2. Aset Tidak Menghasilkan Yield Dividen, Bunga

Bitcoin bukan aset yang menghasilkan yield, seperti deviden atau bunga. Kita membeli Bitcoin dengan harapan pada kenaikkan harga atau capital gain.

Karena tidak menghasilkan yield, sulit untuk melakukan valuasi atas nilai Bitcoin yang sebenarnya.

Kenaikkan harga Bitcoin disebabkan oleh ada orang yang berani membeli di harga lebih tinggi dan bukan karena perhitungan nilai intrinsik value Bitcoin dari yield yang dihasilkan instrumen ini.

3. Nilai Fluktuatif

Nilai Bitcoin sangat fluktuatif. Terlihat dari grafik harga Bitcoin yang bisa naik dan turun dalam waktu sangat singkat.

Pada saat all-time-high, harga Bitcoin mencapai 65K, setelah itu harga Bitcoin turun menyentuh 15K saat muncul kasus FTX.

Fluktuasi nilai Bitcoin tersebut membuat Bitcoin sulit digunakan untuk transaksi. Karena jadi tidak ada patokan nilai yang pasti.

Meskipun kemudian muncul stablecoin yang nilainya dipatok ke mata uang fiat dalam perbandingan 1:1. Jadi, nilai stablecoin ini tetap dan bisa digunakan dalam jaringan Blockchain.

Namun, kasus hancurnya stablecoin Luna di 2022, membuat orang skeptis soal masa depan stablecoin.

4. Dilarang di Berbagai Negara

Bitcoin sebagai aset yang baru belum memiliki regulasi yang sangat jelas. Saat ini di Indonesia, Bitcoin dianggap komoditas yang diatur oleh Bappebti.

Sementara, penggunaan Bitcoin sebagai alat tukar dilarang di Indonesia.

5. Bukan Alat Hedging yang Baik

Pada saat pasar jatuh karena Covid 19, harga Bitcoin ikut jatuh. Di akhir 2022 terjadi krisisi ekonomi, harga Bitcoin juga ikut jatuh.

Artinya, harga Bitcoin mengikuti trend harga di pasar, sama seperti dengan saham.

Jadi Bitcoin bukan instrumen yang efektif untuk melakukan hedging.

6. Belum User’s friendly

Bitcoin tidak mudah digunakan oleh semua orang untuk saat ini. Proses penggunaan dan penyimpanan Bitcoin belum user friendly.

Untuk menyimpan Bitcoin di cold wallet, yang merupakan cara paling aman saat ini, tidak mudah buat orang awam.

7. Tergantung Internet dan Listrik

Bitcoin membutuhkan koneksi internet untuk kita mengakses dan menggunakan.

Di negara yang akses internet masih terbatas, Bitcoin bukan pilihan yang tepat untuk segala waktu. Karena saat internet mati, kita tidak bisa menggunakan Bitcoin.

8. Banyak Kripto Dibobol Hacked

Sistem blockchain-nya memang sangat aman dan transparan. Mekanisme peer to peer membuat proses kontrol di blockchain sangat solid.

Tetapi, yang justru rawan adalah banyak kasus exchange yang di hacked. Bisa dicek di internet soal kasus – kasus pembobolan exchange di berbagai negara.

Dan pembobolan tersebut tidak hanya terjadi di exchange kecil, tetapi exchange besar. Exchange yang sudah punya nilai transaksi jutaan dollar setiap harinya pun bisa kena serangan hacker dan mengalami kerugian yang tidak kecil.

Jadi, Apakah Kripto dan Bitcoin Bodong ?

Bitcoin dan kripto bukan investasi bodong.

Kenapa?

Selama ini, orang menilai Bitcoin dan Kripto terutama hanya dari sisi harga. Harga Bitcoin yang jatuh sangat dalam memicu orang untuk berasumsi bahwa ini adalah investasi bodong.

Padahal, jika dilihat dari penjelasan diatas, manfaat Bitcoin ada banyak dan makin berkembang.

Desentralisasi, perlindungan privasi menjadi manfaat utama Bitcoin dan aset kripto lainnya.

Di samping itu, keterbatasan Bitcoin sebagai blockchain generasi pertama coba terus diperbaiki dengan blockchain generasi 2 dan 3 dengan fitur yang lebih baik dan mumpuni.

Memang, Bitcoin memiliki sejumlah tantangan dalam implementasinya. Namun, tantangan tersebut terus dicarikan solusinya.

Contohnya, kemampuan jumlah transaksi Bitcoin yang terbatas, hanya 6 transaksi per detik, membuat sulit digunakan untuk transaksi.

Sekarang, sudah ada blockchain generasi ke-3 yang memiliki kemampuan transaksi lebih tinggi dan biaya transaksi rendah.

Kemudian, Bitcoin hanya bisa untuk store value. Tapi sekarang kripto generasi berikutnya sudah bisa untuk decentralized finance, decentralized apps.

Jadi, dunia kripto ini mengalami progress yang luar biasa. Developer terus membangun fitur fitur baru.

Kesimpulan

Jika dilihat dari sisi harga semata, Bitcoin terlihat seperti investasi bodong. Harganya terjun bebas dan banyak orang rugi atau bahkan bangkrut dari kejadian ini.

Namun, jika dilihat dari sisi proyek dan manfaat yang ditawarkan, Bitcoin jelas bukan investasi bodong.

Ada banyak manfaat riil yang ditawarkan oleh aset kripto, yang akan sangat berperan dalam memajukan peradaban manusia di masa depan, terutama di era digital saat ini.