Kelebihan dan Kekurangan Bitcoin Cryptocurrency

Trend harga Bitcoin dan Kripto yang meningkat luar biasa tinggi dalam 10 tahun terakhir, membuat banyak orang terjun ke aset kripo ini, tanpa betul – betul tahu isinya.

Akibatnya saat harga Bitcoin jatuh, banyak yang panik dan mengalami kerugian.

Tentu saja, hal ini bukan cerita yang bagus.

Karena sebenarnya, jika dipahami dan dilakukan dengan benar, investasi di Bitcoin punya potensi keuntungan yang besar dalam jangka panjang.

Artikel ini akan membahas kelebihan dan kekurangan Bitcoin. Selengkapnya sebagai berikut:

Kelebihan Bitcoin

1. Jumlah Terbatas 21 Juta

Bitcoin memiliki jumlah yang terbatas, yaitu hanya 21 juta Bitcoin.

Jadi, secara programming di Blockchain sudah di kunci bahwa jumlah Bitcoin 21 juta.

Dengan jumlah yang terbatas, nilai Bitcoin cenderung meningkat. Sifatnya deflationary.

2. Desentralisasi

Bitcoin bersifat desentralisasi, yaitu tidak ada satu pihak yang mengontrol Bitcoin. Bitcoin dicatat secara desentralisasi peer to peer di semua komputer yang bergabung dalam jaringan Blockchain.

Kalau ingin mengirimkan Bitcoin maka tidak perlu bank atau pihak sentral karena prosesnya berlangsung secara peer to peer, alias langsung antara pengirim dan penerima.

Proses pencatatan transaksi, yang selama ini dilakukan oleh bank, digantikan anggota komunitas Bitcoin. Tidak dibutuhkan pihak sentral, seperti bank, dalam Bitcoin.

3. Kirim Uang Sangat Cepat ke Seluruh Dunia

Karena bersifat terdesentralisasi, proses pengiriman Bitcoin menjadi sangat cepat dan sangat murah ke seluruh dunia.

Kirim Bitcoin persis seperti kita mengirimkan email. Prosesnya semurah dan secepat itu.

4. Mudah Disimpan

Sebagai aset digital, Bitcoin mudah disimpan. Mudah pula dikirim.

Tidak butuh tempat yang luas untuk menyimpan Bitcoin dalam jumlah besar. Disimpan dalam USB sudah cukup.

5. Trend Kenaikkan Harga

Dalam 10 tahun sejak kemunculannya, harga Bitcoin telah terbang melesat sangat tinggi. Meskipun beberapa kali terjadi crash di market kripto, tetapi harga Bitcoin selalu mencetak harga all-time high baru.

6. Aman

Meskipun disimpan secara terdesentralisasi di komunitas, Bitcoin sangat aman dalam blockchain karena adanya teknologi kriptografi.

Untuk bisa meng hacked Bitcoin, hacker harus bisa mengakses dan mengubah seluruh data yang ada di block yang terdapat dalam komunitas. Ini hal yang mustahil.

Sampai hari ini, Bitcoin tidak pernah di hack oleh hacker.

Kekurangan Bitcoin

1. Kemampuan Memproses Transaksi Rendah

Salah satu tantangan di Bitcoin adalah kecepatan dalam memproses transaksi yang masih terbatas. Transaction per second di Bitcoin lebih rendah dibandingkan Visa.

Akibatnya, Bitcoin saat ini memiliki use case yang masih sangat terbatas.

Bitcoin untuk penyimpanan nilai, kirim uang dan sedikit sekali merchant yang menerima pembayaran dalam Bitcoin untuk transaksi.

Bahkan, beberapa negara sudah dengan tegas melarang Bitcoin sebagai alat tukar.

2. Aset yang Tidak Menghasilkan Dividen, Bunga

Bitcoin bukan aset yang menghasilkan yield, seperti deviden atau bunga. Kita membeli Bitcoin dengan harapan hanya pada kenaikkan harga atau capital gain.

Karena tidak menghasilkan yield, sulit untuk melakukan valuasi atas nilai Bitcoin yang sebenarnya.

Kenaikkan harga Bitcoin disebabkan oleh ada orang yang berani membeli di harga lebih tinggi dan bukan karena perhitungan nilai intrinsik value Bitcoin dari yield yang dihasilkan instrumen ini.

3. Nilai Sangat Fluktuatif

Nilai Bitcoin sangat fluktuatif. Terlihat dari grafik harga Bitcoin yang bisa naik dan turun dalam waktu sangat singkat.

Pada saat all-time-high, harga Bitcoin mencapai 65K, setelah itu harga Bitcoin turun menyentuh 15K saat muncul kasus FTX.

Fluktuasi nilai Bitcoin tersebut membuat Bitcoin sulit digunakan untuk transaksi. Karena jadi tidak ada patokan nilai yang pasti.

Meskipun kemudian muncul stablecoin yang nilainya dipatok ke mata uang fiat dalam perbandingan 1:1. Jadi, nilai stablecoin ini tetap dan bisa digunakan dalam jaringan Blockchain.

Namun, kasus hancurnya stablecoin Luna di 2022, membuat orang skeptis soal masa depan stablecoin.

4. Dilarang di Berbagai Negara

Bitcoin sebagai aset yang baru belum memiliki regulasi yang sangat jelas. Saat ini di Indonesia, Bitcoin dianggap komoditas yang diatur oleh Bappebti.

Sementara, penggunaan Bitcoin sebagai alat tukar dilarang di Indonesia.

5. Bukan Alat Hedging yang Baik

Pada saat pasar jatuh karena Covid 19, harga Bitcoin ikut jatuh. Di akhir 2022 terjadi krisisi ekonomi, harga Bitcoin juga ikut jatuh.

Artinya, harga Bitcoin mengikuti trend harga di pasar, sama seperti dengan saham.

Jadi Bitcoin bukan instrumen yang efektif untuk melakukan hedging.

6. Belum User’s friendly

Bitcoin tidak mudah digunakan oleh semua orang untuk saat ini. Proses penggunaan dan penyimpanan Bitcoin belum user friendly.

Untuk menyimpan Bitcoin di cold wallet, yang merupakan cara paling aman saat ini, tidak mudah buat orang awam.

7. Tergantung Internet dan Listrik

Bitcoin membutuhkan koneksi internet untuk kita mengakses dan menggunakan.

Di negara yang akses internet masih terbatas, Bitcoin bukan pilihan yang tepat untuk segala waktu. Karena saat internet mati, kita tidak bisa menggunakan Bitcoin.