Pengertian Rasio Profitabilitas Laporan Keuangan: Manfaat, Rumus Formula

Rasio profitabilitas penting dalam analisa laporan keuangan. Bagaimana rumus formula menghitung rasio ini dan cara membacanya ?

Profit merupakan aspek yang paling dikhawatirkan ketika menganalisis laporan keuangan karena mampu merefleksikan kredibilitas keuangan perusahaan secara komprehensif. Menghitung rasio-rasio keuangan, termasuk rasio profitabilitas, adalah langkah dasar dalam menilai tingkat efektivitas dan efisiensi keuangan suatu entitas.

Berikut ini adalah penjelasan mengenai rasio profitabilitas yang mencakup pengertian, tujuan, manfaat, jenis, serta cara menghitungnya.

Apa Itu Rasio Profitabilitas

Rasio profitabilitas merupakan salah satu unsur dari rasio keuangan. Menurut Kasmir (2015), rasio profitabilitas adalah rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan atau laba pada suatu periode tertentu.

Rasio profitabilitas merupakan salah satu unsur dari rasio keuangan. Menurut Kasmir (2015), rasio profitabilitas adalah rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan atau laba pada suatu periode tertentu.
 

a. Tujuan Rasio Profitabilitas

Sesuai dengan pengertiannya, secara definitif, tujuan penghitungan rasio profitabilitas ialah untuk menaksir kapabilitas perusahaan dalam memperoleh laba dari penjualan atau aktivitas operasional, aset, maupun ekuitas.
 

b. Manfaat Rasio Profitabilitas

Terdapat beberapa manfaat dari memperhitungkan rasio profitabilitas, antara lain:

  1. Sebagai indikator dalam menganalisis pergerakan laba dari satu periode ke periode lainnya;
  2. Sebagai pembanding dengan kinerja finansial perusahaan kompetitor pada periode yang sama;
  3. Sebagai pengukur efektivitas struktur alokasi modal perusahaan pada periode tertentu;
  4. Sebagai dasar dalam menilai kinerja historis maupun prospek keuangan perusahaan di masa mendatang;
  5. Sebagai dasar dalam pengambilan keputusan yang bersifat strategis, umumnya bagi manajemen;
  6. Sebagai bahan evaluasi atas efisiensi suatu investasi maupun sebagai sebagai bahan perbandingan atas efisiensi antara beberapa jenis investasi berbeda;
  7. Sebagai tolok ukur dalam mengukur tingkat kesejahteraan pemegang saham.
     

Jenis-Jenis Rasio Profitabilitas

Terdapat beberapa jenis rasio profitabilitas yang umum digunakan, yakni net profit margin, return on assets, return on investment, return on equity,  dan earning per share.
 

Baca Juga  Return on Equity (ROE): Pengertian, Rumus Formula, Interpretasi, Keterbatasan

1. Rasio Net Profit Margin (NPM)

Net profit margin merupakan ukuran keuntungan dengan membandingkan laba setelah bunga dan pajak dengan penjualan bersih. Sederhananya, hasil perhitungan net profit margin mencerminkan persentase kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari setiap penjualan yang terjadi.

Net profit margin secara khusus dapat membantu untuk menganalisis pengaruh beban operasional dan skema penetapan harga pada kemampuan perusahaan dalam memperoleh keuntungannya.

Rumus yang dapat digunakan dalam menghitung  net profit margin  adalah sebagai berikut:

Net Profit Margin (NPM) = (Laba Bersih/Penjualan) × 100%

Standar net profit margin yang berlaku umum yaitu 5% mengindikasikan persentase margin yang rendah, 10% mengindikasikan persentase margin yang sehat, dan 20% dinilai merupakan persentase margin yang tinggi. Terlepas dari itu, standar net profit margin yang akurat bagi setiap perusahaan sejatinya adalah standar yang mengacu kepada rata-rata industrinya masing-masing.
 

2. Rasio Return on Assets (ROA)

Return on assets menunjukkan berapa banyak laba bersih yang mampu dihasilkan perusahaan atas jumlah kepemilikan asetnya.

Rumus yang dapat digunakan dalam menghitung  Return on Assets (ROA) adalah sebagai berikut:

Return on Assets (ROA) = (Laba Bersih/Total Aset) × 100%

Kenaikan return on assets seiring berjalannya waktu mengindikasikan bahwa perusahaan telah berhasil dalam menghasilkan keuntungan dari setiap rupiah yang diinvestasikan untuk bisnisnya. Sebaliknya, rasio return on assets yang menurun dapat mengindikasikan kegagalan perusahaan dalam menumbuhkan labanya, yang pada kasus ini dapat disebabkan salah satunya oleh investasi berlebih pada aset.

Nilai return on assets yang menunjukkan indikasi positif diyakini setidaknya berkisar di atas 5%, sementara di return on assets di atas 20% merupakan persentase yang sangat baik.
 

Baca Juga  Cara Beli Saham IPO di RHB Sekuritas

3. Rasio Return on Investment (ROI)

Nilai pengembalian investasi atau yang lebih dikenal dengan Return on Investment (ROI) merupakan rasio yang menunjukkan hasil atau pengembalian atas modal yang telah diinvestasikan perusahaan. Return on investment dapat menjadi indikator dalam mengukur efektivitas manajemen perusahaan atas aktivitas investasinya.

Return on investment menilai jumlah laba yang diperoleh dengan membandingkannya dengan total investasi. Rumus yang dapat digunakan dalam menghitung  Return on Investment (ROI) adalah sebagai berikut:

Return on Investment (ROI) = ((Pendapatan Investasi – Biaya Investasi)/Biaya Investasi) × 100%

Karena return on investment merupakan jenis pengembalian atas modal, rasio ini menunjukkan tingkat kemampuan perusahaan untuk memberi kompensasi kepada penyedia dana jangka panjang, serta untuk mendatangkan pendanaan di masa depan. Rasio ini dinilai lebih efektif dalam mengukur kekuatan finansial jangka panjang dan tingkat solvensi perusahaan karena dapat secara efektif menunjukkan laba atas modal dari dua perspektif sumber pendanaan yang berbeda sekaligus, yakni kreditur dan pemegang saham.

Semakin tinggi persentase return on investment, maka semakin profitable suatu perusahaan di mata investor. Menurut standar konvensional yang berlaku di masyarakat, persentase return on investment tahunan antara 7% hingga 10% sudah mengindikasikan suatu perusahaan cukup layak untuk menjadi pilihan investasi di pasar saham.
 

4. Rasio Return on Equity (ROE)

Return on equity (ROE) atau rentabilitas modal sendiri atau hasil pengembalian ekuitas ialah rasio yang berfungsi untuk membandingkan nilai laba bersih sesudah pajak dengan ekuitas yang dimiliki perusahaan.

Rumus yang dapat digunakan dalam menghitung  Return on Equity (ROI) adalah sebagai berikut:

Return on Equity (ROI) = (Laba Bersih/Ekuitas Pemegang Saham) × 100%

Baca Juga  15 Rasio Keuangan Penting Dipelajari Buat Investasi Saham

Return on equity yang meningkat menunjukkan bahwa perusahaan mampu menumbuhkan labanya tanpa membutuhkan tunjangan modal eksternal yang besar. Selain itu, kenaikan return on equity juga mengindikasikan bahwa manajemen perusahaan berhasil bersikap efisien terhadap ekuitas yang tersedia.

Perusahaan dengan return on equity yang berkisar antara 15% hingga 20% secara umum dinilai mengindikasikan nilai saham dan efisiensi manajemen yang cukup baik.
 

5. Rasio Laba per Lembar Saham (Earning per Share/EPS)

Rasio laba per lembar saham (earning per share) atau disebut juga rasio nilai buku adalah rasio yang mengukur keberhasilan manajemen dalam mencapai keuntungan bagi pemegang sahamnya. Singkatnya, earning per share menunjukkan jumlah keuntungan yang dapat dihasilkan oleh suatu perusahaan atas setiap lembar sahamnya.

Rumus yang dapat digunakan dalam menghitung  earning per share (EPS) adalah sebagai berikut:

Earning per Share (EPS) = Laba Saham Biasa/Saham Biasa yang Beredar

atau

Earning per Share (EPS) = (Laba Bersih – Dividen Saham Preferen)/(Rata-rata Saham Biasa yang Beredar)

Semakin tinggi earning per share suatu perusahaan, semakin tinggi pula nilai sahamnya di mata investor. Namun, dari segi akurasi, earning per share merupakan indikator yang kurang baik untuk mengukur kinerja perusahaan karena dinilai berpeluang dapat dipengaruhi oleh tindakan-tindakan jangka pendek.

Standar minimum rasio profitabilitas yang harus dipenuhi bagi masing-masing perusahaan dapat berbeda tergantung pada ukuran perusahaan, sektor usaha, dan lain-lain. Untuk memperoleh penilaian yang dapat diperbandingkan, manajemen sebaiknya memiliki data terkait perhitungan rata-rata industri perusahaannya.