Teknik Scalping Terbaik (2022) Buat Trader Pemula

Scalping banyak digunakan trader pemula untuk meraih untung di trading forex. Bagaimana cara teknik scalping yang paling menguntungkan ?

Setiap trader memiliki berbagai strategi scalping. Kita akan melihat apa saja tekniknya.

Trader bisa mencoba dan memilih mana teknik scalping terbaik, sesuai dengan kondisi masing – masing trader.

1. Simple Moving Average

Moving Average adalah indikator teknikal untuk melihat pergerakan harga secara rata – rata selama periode tertentu, sehingga fluktuasi harga bisa dilihat trend-nya.

Moving Average bersifat trend-following (mengikuti tren) dan lagging (tertunda) karena dibuat berdasarkan harga yang telah terjadi.

Banyak trader forex menggunakan Moving Average sebagai alat analisa teknikal karena termasuk indikator paling sederhana dan mudah dipakai.

Perhitungan Moving Average adalah nilai rata-rata pergerakan harga dalam periode tertentu. Nilai rata – rata bisa diambil dari harga tertinggi (High), terendah (Low), harga pembukaan (Open), penutupan (Close), ataupun harga tengah (Median).

Semakin panjang periode yang digunakan dalam perhitungan indikator Moving Average, maka pergerakan garis akan makin lambat (lagging) dibandingkan harga.

Trader dapat melihat trend harga di di pasar berdasarkan grafik harga dan garis Moving Average, yaitu:

  • Trend Harga Turun: harga sekarang berada di bawah garis Moving Average
  • Trend Harga Naik: harga sekarang berada di atas garis Moving Average.

Salah satu cara menentukan harga buy atau sell adalah dengan melihat pertemuan atau crossing antara dua garis trend MA yang berbeda.

  • Sinyal Buy: jika garis MA berperiode lebih rendah bergerak melintasi garis MA berperiode lebih tinggi dengan tren naik, yaitu dari bawah ke atas.
  • Sinyal Sell: jika garis MA berperiode lebih rendah bergerak melintasi garis MA berperiode lebih tinggi dengan tren turun, yaitu dari atas ke bawah.

Kedua sinyal dari Moving Average tersebut sering disebut Golden Cross dan Death Cross.

2. EMA

Scalping menggunakan indikator EMA untuk menentukan arah trend dengan memberikan bobot lebih besar pada trend harga terkini.

Exponential moving average (EMA) digunakan untuk memperbaiki simple moving average (SMA) yang bereaksi lambat.

EMA memberikan bobot lebih tinggi pada harga akhir sehingga akan bereaksi lebih cepat.

Baca Juga  5+ Aplikasi Broker Trading Komoditas Terbaik Izin Bappebti 2022

Indikator ini bisa bekerja dengan baik pada semua time frame dan sering digunakan oleh para trader harian.

Semakin pendek periode yang digunakan akan semakin cepat EMA bereaksi terhadap perubahan harga.

Misalnya kita menghitung EMA 10 dari harga penutupan (Close) pada time frame Daily, maka:

  • SMA = jumlah harga penutupan selama 10 hari / 10
  • Multiplier = (2 / (periode waktu + 1)) = (2 / (10 + 1) ) = 0.1818 (18.18%)
  • EMA: {Close – EMA (hari sebelumnya)} x Multiplier + EMA (hari sebelumnya)

Pembobotan akan berbeda dan tergantung pada periode-nya.

EMA-10 Day memberikan pembobotan 18.18% terhadap harga terkini. Sementara, EMA-20 Day mengaplikasikan pembobotan 9.52% di harga terkini (2/(20+1)=0.0952).

Pembobotan EMA berperiode lebih pendek akan selalu lebih besar dibandingkan EMA berperiode lebih panjang.

Dengan penambahan pembobotan ini, EMA dapat menghasilkan indikator Moving Average yang lebih halus ketimbang SMA.

Setting EMA-200 banyak digunakan trader karena mudah menentukan trend, yaitu:

  • Ketika berada di bawah kurva indikator EMA 200, maka diasumsikan harga sedang bergerak downtrend.
  • Ketika berada di atas EMA 200 diasumsikan harga sedang uptrend.

3. Price Action

Price action adalah metode trading menggunakan pola pergerakan harga pasar (market price), trend, garis support dan resistance, dan candlestick.

Garis trend adalah garis yang menghubungkan titik tertinggi, terendah, atau titik tengah harga pasar dari beberapa waktu yang berbeda. Apabila titik A

  • Garis support adalah garis yang menghubungkan titik-titik terendah harga pasar,
  • Garis resistance adalah garis yang menghubungkan titik-titik tertinggi dalam harga pasar.

Perpaduan antara trend, support dan resistance ini dapat membentuk pola-pola unik yang bisa mengindikasikan potensi pergerakan harga pasar.

Misalnya, pola wedges.

Sesuai dengan namanya, pola wedges adalah pola harga yang bergambar mirip dengan hak sepatu wanita (wedges).

Pada rising wedges, garis support lebih miring dibandingkan dengan resistance. Hal ini menunjukkan akan adanya potensi keberlanjutan trend harga yang sedang naik (bullish continuation pattern).

Memahami pola candlestick untuk mempelajari metode price action ini karena candlestick secara tidak langsung menggambarkan pergerakan harga beserta volume-nya. Tampilan pada grafik lilin bisa digunakan untuk memperkirakan apakah harga akan bergerak naik atau turun.

Baca Juga  HSB Investasi Broker Forex Review 2022 Apakah Aman

Ambillah contoh pola candlestick three white soldiers dan three black crows.

Sesuai dengan namanya, three white soldiers adalah pola candlestick yang terdiri dari 3 candle berwarna putih atau hijau bernama A,B, dan C. Dalam pola ini, A

Sebaliknya, three black crows adalah pola candlestick yang terdiri dari 3 candle berwarna hitam atau merah bernama A,B, dan C. Dalam pola ini, A>B>C sehingga menunjukkan adanya potensi penurunan harga yang kuat. Selain dua pola di atas, ada banyak lagi pola candlestick yang harus Anda pelajari.

Breakout adalah gabungan antara kedua konsep diatas (garis dan candlestick). Breakout adalah kondisi dimana badan atau ekor candlestick menembus garis support atau garis resistance.

Ada dua jenis breakout, yaitu

  • true breakout
  • false breakout.

True breakout adalah kondisi dimana yang menembus garis support dan resistance adalah badan candlestick, sementara false breakout adalah kondisi dimana yang menembus support dan resistance adalah ekor candle saja.

Umumnya, true breakout menunjukkan adanya potensi pembalikan harga yang kuat (reversal), baik itu perubahan harga naik atau turun (tergantung garis apa yang ditembus).

Namun demikian, ada kondisi-kondisi tertentu dimana candle setelah true breakout justru mengindikasikan adanya keberlanjutan trend (continuation), sehingga Anda perlu berhati-hati dalam mengambil keputusan.

4. Stochastic dan Moving Average (MA)

Stochastic Oscillator berfungsi mengukur harga saat ini terhadap kisaran harga selama periode tertentu.

Dengan plot berada di antara nol dan 100, kenaikan trend diasumsikan terus memicu harga untuk mencapai titik tertinggi baru. Sebaliknya, dalam kondisi trend turun, harga diyakini dapat membentuk titik trend baru.

Peran Stochastic melacak kemungkinan tersebut.

Ketika kenaikan trend sudah dianggap jenuh dan harga diekspektasikan tidak lagi membuat titik tertinggi baru, maka:

  • Stochastic akan mencapai nilai di atas 80 yang menandakan kondisi overbought.
  • Stochastic akan mencapai nilai di bawah 20 untuk penurunan trend yang sudah jenuh.

Stochastic dan MACD kerap digunakan secara bersamaan untuk mencari sinyal dalam trading

Baca Juga  4 Rekomendasi Broker Forex Menerima Deposit Bank Lokal

Strategi MACD dan stochastic digunakan untuk mengenali sinyal sell dari indikasi bearish reversal saat trading forex. Syarat utama sinyal sell dari strategi Double Cross ini adalah perpotongan stochastic terjadi di atas level 50.

Untuk mengambil posisi buy, selain crossing Stochastic di bawah level 50, pada saat bersamaan harus terdapat crossing garis sinyal dan histogram MACD ke atas level 0.

5. Parabolic SAR

Parabolic SAR menggunakan titik-titik yang terletak di bagian atas atau bawah grafik candle untuk membantu trader mengenali tren.

Tampilan yang sederhana dan mudah dibaca membuat Parabolic SAR populer di kalangan trader.

Parabolic SAR bisa membantu scalper menemukan titik-titik pembalikan harga pada pergerakan terkecil, dan menggunakannya sebagai acuan entry ataupun exit.

Untuk scalping dengan Parabolic SAR, trader disarankan menggunakan time frame M1-M30.

  • Jika titik-titik Parabolic SAR berada di bawah candle, artinya pasar sedang Uptrend.
  • Jika titik-titik Parabolic SAR berada di atas candle, artinya pasar sedang Downtrend.

6. Volume Trading

Trader bisa mengukur naik turun volume suatu instrumen trading dalam periode waktu tertentu, dengan indikator On Balance Volume (OBV).

Volume naik (up volume) merupakan banyaknya volume perdagangan pada hari ketika harga sedang menguat, sementara volume turun (down volume) ialah banyaknya volume pada hari ketika harga sedang turun.

  • Ketika OBV sedang menguat, berarti menunjukkan ketersediaan pembeli untuk melangkah dan mendorong harga lebih tinggi.
  • Ketika OBV sedang turun, berarti volume penjualan melebihi volume pembelian. Hal itu mengindikasikan harga yang lebih rendah.

OBV berperan sebagai alat konfirmasi terjadinya trend. Contohnya saja, apabila harga dan OBV naik, berarti mengkonfirmasi adanya kelanjutan trend naik.

Strategi volume ini dibarengi dengan Price action.

Trader yang menggunakan indikator OBV juga perlu memperhatikan divergensi. Hal itu penting, terutama ketika indikator dan harga bergerak ke arah yang berbeda.

Ketika harga naik namun OBV bergerak turun, berarti trend tidak didukung oleh pembeli yang kuat dan kemungkinan akan segera berbalik arah.