Value Investing vs Growth Investing, Mana Strategi Saham Terbaik

Value dan Growth Investing adalah dua cara berinvestasi saham yang paling sering dibahas dan dibandingkan. Apa manfaat dan kerugian dari masing – masing strategi ini ?

Value Investing mencari saham fundamental bagus pada valuasi harga murah (undervalued), yang bisa sangat menguntungkan dalam jangka panjang. Namun strategi value investing membutuhkan kesabaran dan kecanggihan dalam analisa fundamental.

Growth Investing mencari saham dengan kinerja pertumbuhan tinggi dan tidak peduli atas valuasi saham yang mahal. Growth investing menawarkan keuntungan lebih cepat, namun resikonya juga tidak kecil karena saham dibeli pada harga mahal.

Apa itu Value Investing

Value Investing adalah strategi beli saham yang bagus di harga diskon.

Mungkin ungkapan dari LKH Lo Kheng Hong bisa menggambarkan strategi ini, yaitu “beli Mercy di harga Avanza’.

Tanpa bermaksud merendahkan kualitas mobil Avanza, ungkapan tersebut menunjukkan bahwa value investing tidak hanya bicara soal kualitas barang yang bagus, tetapi juga harga barang yang murah.

Saham bagus yang undervalued menjadi kunci strategi value investing.

Kelebihan Value Investing

Keunggulan strategi value investing adalah:

1. Resiko Rendah, Aman

Karena value investing berfokus pada valuasi harga yang murah, resikonya menjadi lebih rendah.

Kemungkinan harga saham turun lagi relatif kecil. Harga saham sudah murah dalam value investing.

2. Keuntungan Besar dalam Jangka Panjang

Saham bagus yang dibeli pada harga diskon sangat bisa menghasilkan keuntungan tinggi, saat harga saham recover.

Contohnya yang sukses sudah ada, yaitu Warren Buffet, salah satu orang terkaya di dunia, yang menjalankan prinsip value investing dalam  memilih saham untuk investasi.

3. Investasi Santai

Pengamat dan investor saham, Teguh Hidayat, pernah bilang di bukunya bahwa value investing itu santai. Investor di value investing tidak harus melihat monitor saham setiap hari. Tidak perlu melakukan analisa setiap jam.

Cukup memantau secara berkala soal kondisi harga saham dan kinerja perusahaan. Masuk ke pasar di saat waktu yang tepat ketika harga saham memang sudah murah.

Kekurangan Value Investing

Sejumlah kelemahan value investing adalah

1. Harus Sabar

Dibutuhkan kesabaran ekstra untuk bisa berhasil dalam value investing. 

Karena perusahaan bagus dengan valuasi saham murah hanya terjadi dalam kondisi – kondisi tertentu. Sangat jarang terjadi.

Umumnya, harga saham perusahaan yang kinerja bagus itu mahal. Jarang yang murah.

Jadi, investor dengan value investing bukan tipe yang setiap hari beli atau jual saham. Bisa beli saham hanya satu kali dalam setahun atau bahkan dua tahun.

Tapi bisa juga beli banyak saham dalam kondisi tertentu. Misalnya saat pasar lagi anjlok dan banyak harga saham murah.

Selama valuasi saham yang diincar belum murah, investor value investing tidak akan beli saham tersebut.

2. Paham Analisa Fundamental

Untuk bisa menentukan saham tersebut mahal atau murah, investor value investing menggunakan analisa fundamental.

Analisa fundamental, seperti Price Earning Ratio (PER), Price to Book Value (PBV), digunakan untuk menentukan valuasi saham.

Tidak semua orang punya waktu dan skill untuk memahami analisa fundamental. Analisa ini membutuhkan kemampuan untuk membaca laporan keuangan.

3. Jangka Panjang

Ciri analisa value investing adalah jangka panjang.

Dalam jangka pendek, sangat bisa terjadi, bahwa kinerja perusahaan yang bagus tidak terefleksi di harga saham. Perusahaan yang buruk tapi harganya naik bisa terjadi dalam jangka pendek.

Namun, dalam jangka panjang, kinerja perusahaan akan tercermin di harga saham. Perusahaan bagus, harga saham bagus.

4. Tidak Ikut Hype

Value investing bukan jenis investasi yang ikut hype. Value investing fokus pada fundamental dan valuasi harga.

Seheboh apapun suatu saham, jika tidak masuk kriteria, yaitu saham bagus dan harga murah, investor value investing tidak akan membeli sahamnya.

5. Butuh Mental Kuat

Harga saham akan murah saat krisis. Lihat saja saat krisis 1998 di Indonesia, 2008 di USA, 2020 pandemi, harga saham pada berguguran.

Secara teori, saat harga saham turun, investor value investing seharusnya bergembira dan segera bergerak membeli saham. Saatnya beli saham di harga diskon.

Tapi beli saham dalam kondisi krisis, bukan pekerjaan mudah. Karena di saat itu, pasti semua berita sedang negatif soal pasar saham.

Bagaimana mungkin, kita beli saham ketika semua orang jual. Ini butuh keyakinan dan kedalaman analisa.

Butuh mental yang strong !

Apa itu Growth Investing

Growth investing adalah strategi investasi yang membeli saham dengan pertumbuhan tinggi. Tidak terlalu peduli dengan valuasi harga saham yang mahal.

Contoh growth investing adalah saham – saham teknologi. Jenis saham ini punya pertumbuhan yang sangat tinggi, penjualan berkali lipat hanya dalam beberapa tahun.

Namun, saham teknologi punya valuasi harga yang sangat mahal. PER atau PBV perusahaan ini berkali – kali lipat.

Dari hitungan valuasi, saham teknologi sangat mahal. Namun, growth investing percaya bahwa harga yang mahal di justifikasi oleh growth perusahaan.

Kelebihan Growth Investing

Keuntungan melakukan growth investing:

1. Untung Besar

Strategi growth investing menjanjikan keuntungan yang lebih cepat dibandingkan value investing.

Pada saat yang tepat, harga saham teknologi bisa naik sangat cepat. Pertumbuhan menjadi pendorong utama kenaikkan harga saham.

2. Untung Cepat

Kita tidak perlu menunggu lama untuk meraup keuntungan di saham – saham growth investing. Harga saham growth investing bisa naik berkali lipat dalam waktu singkat.

Pasar dalam kondisi bullish bisa mengapresiasi saham growth dengan sangat besar.

3. Tidak Pusing dengan Valuasi

Growth investing tidak harus berkutat dengan keputusan saham ini mahal atau murah. Tidak mudah menentukan valuasi saham mahal atau murah.

4. Ikut Trend

Saham dengan growth yang tinggi membuat kita bisa ikut trend. Trend bisa sangat menguntungkan di saat yang tepat.

Kekurangan Growth Investing

Sejumlah kelemahan growth investing adalah

1. Resiko Tinggi

Growth investing umumnya akan membeli saham pada valuasi yang mahal. Karena buat kelompok ini, fokusnya adalah growth dan bukan mahal murahnya valuasi.

Dalam kondisi bursa saham sedang bagus, bullish, saham growth investing akan baik – baik saja. Investor bisa menerima valuasi yang mahal.

Namun di saat bursa sedang anjlok, turun, saham growth investing yang terkena dampak paling signifikan. Orang biasanya akan menjual lebih dulu saham – saham yang valuasinya dianggap mahal.

Hal ini terjadi di saham – saham teknologi yang masuk kategori growth investing. Saham teknologi turun paling dalam saat krisis datang.

2. Wajib Memonitor Pergerakan Harga Saham

Saham growth investing perlu monitor secara intensif karena fluktuasi harga cukup volatile. Ini terkait dengan valuasi yang mahal.

Karena valuasi harga yang mahal, perubahan sedikit dalam sentimen pasar akan mempengaruhi harga saham growth investing.

3. Belum Ada Dividen

Umumnya, saham growth investing masih dalam tahap pertumbuhan dan belum membagikan dividen. Profit diinvestasikan kembali untuk pertumbuhan perusahaan.

Bahkan tidak jarang, saham growth investing adalah perusahaan yang masih rugi. Masih dalam kondisi loss.

Karena tidak ada deviden, maka sumber keuntungan saham growth investing hanya pada kenaikkan harga saham atau capital gain.

Itu sebabnya saat pasar sedang turun, saham growth investing terpukul paling dalam. Tidak hanya karena turunnya harga saham tetapi juga karena belum ada deviden yang bisa mengkompensasi penurunan harga.

Perbandingan Value dan Growth Investing di Investasi Saham

Fitur Value Investing Growth Investing
Return Lebih Rendah Tinggi
Resiko Rendah Tinggi
Deviden Ya Tidak
Valuasi Murah Mahal
Jangka Waktu Jangka Panjang Jangka Menengan
Industri Bank, Manufacturing Teknologi